Hari itu minggu 19 Oktober 2008, setelah aku pulang dari masjid, istriku memanggilku dengan wajah yang agak berbeda dari biasanya. Dengan mimik memelas dia menunjuk lantai kamar kami. Kontan kulihat setetes darah di lantai dan seketika itu aku langsung tersadar, mungkin hari itu adalah hari yang kami tunggu selama ini, hari kelahiran anak pertama kami.
Tanpa berlama-lama,dengan mengucap Basmallah saat itu juga aku ajak istriku ke bidan langganan kami. Aku sebut bidan langganan, karena memang sudah empat bulan terakhir kami, kesehatan istri dan bayiku diperiksa rutin oleh ibu Dwi Endang Setyawati, sang bidan. Paling tidak itu yang bisa aku lakukan sebagai suami siaga, segera membawa istri ke bidan setelah melihat tanda-tanda persalinan. Yang aku tahu, keluarnya darah adalah salah satu tanda kalau bayi dalam kandungan sudah tidak betah dalam kegelapan, ingin segera melihat dunia luar. Dengan teliti Bu Endang memeriksa istriku, dan disimpulkan bahwa pagi itu belum waktunya anak kami lahir. Kami diminta menunggu satu atau dua hari.
Pada hari itu tidak ada yang kulakukan kecuali menemani dan mengawasi istriku di rumah. Aku hanya keluar rumah untuk beli nasi bungkus dan ke masjid. Aku yakin tidak ada suami yang tega melihat istri mengeluh kesakitan sepanjang hari. Dari pengalaman itu aku jadi bisa memahami betapa beratnya menjadi seorang wanita, seorang ibu. Alhamdulillah, Allah membuka hatiku untuk semakin mencintai istriku, juga semakin mencintai ibuku.
Setelah seharian bingung di rumah, siangnya aku bawa kembali istriku ke tempat Bu Endang, dan kami kembali pulang dengan bayi yang masih dalam kandungan, karena belum waktunya anak kami lahir. Perjuangan kami lanjutkan di rumah, hati ini semakin cemas dan panik melihat istri kesakitan, tapi aku berusaha mengendalikan emosiku untuk tidak menunjukkan kepanikan dan kesedihan di depan istriku. Maklum, kami hanya tinggal berdua di Samarinda, keluarga kami tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Tentu saja hanya aku yang bisa memberi semangat istriku di saat genting seperti itu. Anda bisa bayangkan apa yang dirasakan seseorang yang sedang berjuang bertaruh nyawa, sedangkan orang yang mendampinginya tidak menunjukkan ketegaran dan keoptimisan.
Pukul sembilan malam, aku ajak istriku ke tempat bidan kami untuk ketiga kalinya. Kali ini aku bertekad untuk bermalam di rumah sang bidan. Aku ingin istriku dalam pengawasan orang yang tepat pada detik-detik menjelang kelahiran. Malam itu istriku sudah tidak kuat untuk berangkat naik motor. Alhamdulillah kami tinggal di komplek perumahan yang cukup ramai, dan hampir semua tetangga kami mempunyai mobil. Malam itu kami diantar oleh tetangga kami pak Pantas dan istrinya. Dengan mobil berlogo sebuah produk susu fermentasi, kami berangkat menuju tempat yang menjadi pilihan kami sebagai tempat menyambut kelahiran buah hati kami. Malam itu kami diminta bermalam di tempat persalinan karena diperkirakan anak kami akan lahir pada malam itu juga.
Semalaman aku mendampingi istriku. Aku ajak dia berdzikir, menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya, karena aku yakin hanya Allah tempat berserah diri, hanya Allah yang mampu memudahkan urusan kami, hanya Allah yang bisa melindungi istri dan anakku. Alhamdulillah, setelah perjuangan yang sangat berat, pada dini hari Senin, 20 Oktober 2008 tepat pukul 02.40 WITA, bayi perempuan mungil lahir dengan disambut teriakan takbir sang ayah dan bidan yang membantu persalinan. Anak kami lahir dengan selamat dengan berat 2,9 kg dan panjang 51 cm. Alhamdulillah, Istriku juga dalam kondisi sehat, meski terlihat lemas kelelahan. Aku pun langsung mengumandangkan adzan dan iqomat dengan lembut di telinga anakku setelah tubuh mungilnya dibersihkan. Kami ingin agar kalimat pertama yang didengar anak kami adalah kalimat Allah. Harapan kami tiada lain agar anak kami senantiasa terhindar dari godaan setan selama mengarungi kehidupannya kelak.
Amirah Azka Tsabitah, demikian kami namakan putri pertama kami. Kami putuskan memberikan nama itu setelah menimbang-nimbang beberapa nama yang masuk nominasi “Nama Terbaik” untuk buah hati kami. Dan hasilnya nama itu “Amirah Azka Tsabitah” adalah nama yang beruntung menjadi nama panggilan anak kami di masa selanjutnya.
Ungkapan “apalah arti sebuah nama” tidak berlaku bagi kami. Tentunya juga tidak berlaku bagi kaum muslimin lainnya. Dalam ajaran Islam yang mulia, salah satu kewajiban orang tua terhadap anak adalah memberikan nama yang baik. Nama adalah Doa dan Harapan orang tua terhadap masa depan anak. Nama anak menggambarkan keinginan kuat orang tua atas apa yang mereka inginkan untuk buah hati mereka. Demikian juga dengan kami, kami mempunyai harapan-harapan terbaik untuk masa depan anak kami. Kami mempunyai cita-cita yang mulia untuk anak kami.
Kami ingin memberikan nama yang bernuansa Islam pada anak-anak kami. Aku dan istriku tidak mengerti bahasa arab, meskipun dulu pernah belajar sedikit sewaktu masih mahasiswa. Jadi kami hanya mengambil kata-kata indah yang memiliki arti yang indah dari buku kumpulan nama-nama islami, kemudian kami gabungkan menjadi sebuah rangkaian nama yang menakjubkan menurut kami. Mungkin orang yang fasih berbahasa arab akan kesulitan mengartikan nama itu karena tidak ada kalimat berbahasa arab dengan struktur seperti itu. Tetapi kalau dilihat arti kata per kata, mungkin akan lebih mudah mengerti apa harapan kami terhadap buah hati kami.
Amirah yang artinya Pemimpin (wanita), Azka berarti suci dan Tsabitah adalah teguh atau kokoh. Kira-kira sifat-sifat itulah yang kami harapkan ada pada Mira (panggilan untuk anak kami) kelak waktu dia dewasa. Memiliki sifat-sifat pemimpin, karena pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Hati yang bersih dan jiwa yang teguh mutlak diperlukan untuk menghadapi dinamika kehidupannya kelak.
Selama menunggu kelahiran putri kami, tak henti-hentinya aku berdoa untuknya. Sebuah Doa, yang ada dalam Al quran Surah Al Furqon ayat 74 senantiasa terucap dalam tiap sujudku.
“Rabbana hablana min Azwaajina wa dzurriyyaa tinaa qurrata a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaaman”
Artinya “ya Tuhan kami, anugerakanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami peminpin bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Doa yang begitu indah dan penuh harapan yang begitu mulia.
Aku yakin, banyak harapan-harapan terbaik lainya yang menjadi harapan orang tua lainnya di dunia ini. Bahkan, bisa jadi yang menjadi harapan kami juga menjadi harapan Saudara saat ini. (Joko TP – Samarinda)
Tanpa berlama-lama,dengan mengucap Basmallah saat itu juga aku ajak istriku ke bidan langganan kami. Aku sebut bidan langganan, karena memang sudah empat bulan terakhir kami, kesehatan istri dan bayiku diperiksa rutin oleh ibu Dwi Endang Setyawati, sang bidan. Paling tidak itu yang bisa aku lakukan sebagai suami siaga, segera membawa istri ke bidan setelah melihat tanda-tanda persalinan. Yang aku tahu, keluarnya darah adalah salah satu tanda kalau bayi dalam kandungan sudah tidak betah dalam kegelapan, ingin segera melihat dunia luar. Dengan teliti Bu Endang memeriksa istriku, dan disimpulkan bahwa pagi itu belum waktunya anak kami lahir. Kami diminta menunggu satu atau dua hari.
Pada hari itu tidak ada yang kulakukan kecuali menemani dan mengawasi istriku di rumah. Aku hanya keluar rumah untuk beli nasi bungkus dan ke masjid. Aku yakin tidak ada suami yang tega melihat istri mengeluh kesakitan sepanjang hari. Dari pengalaman itu aku jadi bisa memahami betapa beratnya menjadi seorang wanita, seorang ibu. Alhamdulillah, Allah membuka hatiku untuk semakin mencintai istriku, juga semakin mencintai ibuku.
Setelah seharian bingung di rumah, siangnya aku bawa kembali istriku ke tempat Bu Endang, dan kami kembali pulang dengan bayi yang masih dalam kandungan, karena belum waktunya anak kami lahir. Perjuangan kami lanjutkan di rumah, hati ini semakin cemas dan panik melihat istri kesakitan, tapi aku berusaha mengendalikan emosiku untuk tidak menunjukkan kepanikan dan kesedihan di depan istriku. Maklum, kami hanya tinggal berdua di Samarinda, keluarga kami tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Tentu saja hanya aku yang bisa memberi semangat istriku di saat genting seperti itu. Anda bisa bayangkan apa yang dirasakan seseorang yang sedang berjuang bertaruh nyawa, sedangkan orang yang mendampinginya tidak menunjukkan ketegaran dan keoptimisan.
Pukul sembilan malam, aku ajak istriku ke tempat bidan kami untuk ketiga kalinya. Kali ini aku bertekad untuk bermalam di rumah sang bidan. Aku ingin istriku dalam pengawasan orang yang tepat pada detik-detik menjelang kelahiran. Malam itu istriku sudah tidak kuat untuk berangkat naik motor. Alhamdulillah kami tinggal di komplek perumahan yang cukup ramai, dan hampir semua tetangga kami mempunyai mobil. Malam itu kami diantar oleh tetangga kami pak Pantas dan istrinya. Dengan mobil berlogo sebuah produk susu fermentasi, kami berangkat menuju tempat yang menjadi pilihan kami sebagai tempat menyambut kelahiran buah hati kami. Malam itu kami diminta bermalam di tempat persalinan karena diperkirakan anak kami akan lahir pada malam itu juga.
Semalaman aku mendampingi istriku. Aku ajak dia berdzikir, menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya, karena aku yakin hanya Allah tempat berserah diri, hanya Allah yang mampu memudahkan urusan kami, hanya Allah yang bisa melindungi istri dan anakku. Alhamdulillah, setelah perjuangan yang sangat berat, pada dini hari Senin, 20 Oktober 2008 tepat pukul 02.40 WITA, bayi perempuan mungil lahir dengan disambut teriakan takbir sang ayah dan bidan yang membantu persalinan. Anak kami lahir dengan selamat dengan berat 2,9 kg dan panjang 51 cm. Alhamdulillah, Istriku juga dalam kondisi sehat, meski terlihat lemas kelelahan. Aku pun langsung mengumandangkan adzan dan iqomat dengan lembut di telinga anakku setelah tubuh mungilnya dibersihkan. Kami ingin agar kalimat pertama yang didengar anak kami adalah kalimat Allah. Harapan kami tiada lain agar anak kami senantiasa terhindar dari godaan setan selama mengarungi kehidupannya kelak.
Amirah Azka Tsabitah, demikian kami namakan putri pertama kami. Kami putuskan memberikan nama itu setelah menimbang-nimbang beberapa nama yang masuk nominasi “Nama Terbaik” untuk buah hati kami. Dan hasilnya nama itu “Amirah Azka Tsabitah” adalah nama yang beruntung menjadi nama panggilan anak kami di masa selanjutnya.
Ungkapan “apalah arti sebuah nama” tidak berlaku bagi kami. Tentunya juga tidak berlaku bagi kaum muslimin lainnya. Dalam ajaran Islam yang mulia, salah satu kewajiban orang tua terhadap anak adalah memberikan nama yang baik. Nama adalah Doa dan Harapan orang tua terhadap masa depan anak. Nama anak menggambarkan keinginan kuat orang tua atas apa yang mereka inginkan untuk buah hati mereka. Demikian juga dengan kami, kami mempunyai harapan-harapan terbaik untuk masa depan anak kami. Kami mempunyai cita-cita yang mulia untuk anak kami.
Kami ingin memberikan nama yang bernuansa Islam pada anak-anak kami. Aku dan istriku tidak mengerti bahasa arab, meskipun dulu pernah belajar sedikit sewaktu masih mahasiswa. Jadi kami hanya mengambil kata-kata indah yang memiliki arti yang indah dari buku kumpulan nama-nama islami, kemudian kami gabungkan menjadi sebuah rangkaian nama yang menakjubkan menurut kami. Mungkin orang yang fasih berbahasa arab akan kesulitan mengartikan nama itu karena tidak ada kalimat berbahasa arab dengan struktur seperti itu. Tetapi kalau dilihat arti kata per kata, mungkin akan lebih mudah mengerti apa harapan kami terhadap buah hati kami.
Amirah yang artinya Pemimpin (wanita), Azka berarti suci dan Tsabitah adalah teguh atau kokoh. Kira-kira sifat-sifat itulah yang kami harapkan ada pada Mira (panggilan untuk anak kami) kelak waktu dia dewasa. Memiliki sifat-sifat pemimpin, karena pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Hati yang bersih dan jiwa yang teguh mutlak diperlukan untuk menghadapi dinamika kehidupannya kelak.
Selama menunggu kelahiran putri kami, tak henti-hentinya aku berdoa untuknya. Sebuah Doa, yang ada dalam Al quran Surah Al Furqon ayat 74 senantiasa terucap dalam tiap sujudku.
“Rabbana hablana min Azwaajina wa dzurriyyaa tinaa qurrata a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaaman”
Artinya “ya Tuhan kami, anugerakanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami peminpin bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Doa yang begitu indah dan penuh harapan yang begitu mulia.
Aku yakin, banyak harapan-harapan terbaik lainya yang menjadi harapan orang tua lainnya di dunia ini. Bahkan, bisa jadi yang menjadi harapan kami juga menjadi harapan Saudara saat ini. (Joko TP – Samarinda)
Komentar
Posting Komentar